Workshop Early Warning System-Code Blue

UPT Pelatihan Tenaga Kesehatan (Latnakes) Kupang bekerja sama dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Provinsi NTT, Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Provinsi NTT, serta Departemen Anastesi dan Terapi Intensif FK UGM melaksanakan Workshop TOT Early Warning System-Code Blue. Pelatihan yang dilaksanakan di Latnakes Kupang sejak Jumat (05/07/19) hingga Minggu (07/07/19) ini diikuti oleh para dokter spesialis, dokter umum, dan perawat dari 18 institusi, 17 rumah sakit di NTT, serta 1 peserta dari PERDATIN NTT.

Ketua panitia kegiatan sekaligus Kepala UPT Latnakes, dr. Minah Sukri, MARS menjelaskan bahwa pelatihan ini perlu dilaksanakan dalam kaitannya dengan peningkatan kompetensi dan pengembangan karir ASN, sebagaimana dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa pengembangan kompetensi ASN yang dilaksanakan melalui pendidikan dan atau pelatihan dilakukan paling sedikit 20 jam pelajaran dalam 1 tahun. Pelatihan ini dapat dilaksanakan dengan instansi pemerintah yang telah terakreditasi.

“Untuk kita di NTT khususnya di Kupang, instansi tersebut ialah UPT Latnakes. Oleh karena itu tugas kami ialah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang terakreditasi,” tuturnya.

Selain itu, dr. Minah juga menerangkan bahwa untuk memenuhi standard mutu dan dalam kaitannya dengan akreditasi, fasilitas kesehatan seperti Puskesmas atau rumah sakit  tentunya membutuhkan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensi staf. Akan tetapi, hal yang sering ditemui ialah sulitnya mengakses tempat pelatihan, sebab kebanyak pelatihan dilaksanakan di luar NTT yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Untuk meminimalisir hal tersebut maka bekerja sama dengan PERSI kami memfasilitasi narasumber dari luar NTT untuk membantu kita di sini, sehingga kendala akses tersebut bisa diminimalisir. Kami juga sudah bekerja sama dengan Perdatin NTT, sehingga ke depan dengan organisasi profesi secara bersama-sama kita bisa melanjutkan pelatihan tersebut ke seluruh wilayah di NTT,” lanjutnya.

“Dengan mengikuti pelatihan ini kita harapkan para peserta dapat menjalankan perannya sebagai pengelola Early Warning System-Code Blue di rumah sakit secara professional sesuai dengan standard yang ditetapkan oleh SNARS,” kata dr. Minah.

Lebih lanjut, dikatakan olehnya bahwa tujuan pelatihan tersebut ialah agar peserta mampu menjelaskan standard-standar yang dibutuhkan dalam kepentingan Early Warning System-Code Blue. Selain itu, tujuannya ialah agar peserta mampu menjelaskan pengembangan Early Warning System-Code Blue, peserta mampu melakukan bantuan hidup dasar maupun bantuan hidup lanjut dan melakukan tugas sebagai instruktur, serta melakukan langkah-langkah perencanaan terbentuknya Early Warning System-Code Blue di rumah sakit.

Narasumber dalam kegiatan ini, lanjut dr. Minah, ialah tim dari Departemen Anastesi dan Terapi Intensif FK UGM yang telah memperoleh pengakuan dan penghargaan dari KARS. (sumber: medikastar.com)